Archive for March, 2007

Warhamhuma kama rabbayani saghira

Saturday, March 10th, 2007

hampir setiap selesai sholat kita membaca do’a untuk orang tua kita.

___Ya Allah, ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba, dan kasihilah mereka seperti mereka mengasuh aku sewaktu kecil. ___

Aku memperhatikan diriku, bagaimana aku begitu berharap kepada anak yang sedang dikandung istriku, mendoakannya agar sempurna tubuh dan akhlaknya, berdoa agar tetap terjaga imannya, serta selalu melangkah di atas jalan Allah. Dengan demikian aku perhatikan asupan gizinya, termasuk ibunya, pilihkan nama-nama dengan arti yang baik.

Itu ketika anakku masih dalam kandungan, dan yang pasti akan banyak lagi perhatian yang akan kucurahkan untuk anakku sebagai bagian dari pengasuhanku. Dan aku teringat pada do’a kepada ibu dan bapak, dan membayangkan bagaimana mereka begitu memperhatikan aku sejak aku masih dalam kandungan hingga dewasa saat ini.

Dan aku juga teringat, bahwa do’a haruslah selalu dibarengi dengan ikhtiar. Do’a minta dilancarkan rezeki, harus dibarengi dengan usaha mencari rezeki itu sendiri, tidak bisa diam berpangku tangan berharap semuanya serba instan. Demikian pula do’a kepada ibu dan bapak, ketika aku meminta kepada Allah untuk mengasihi orang tuaku, apakah aku sendiri sudah berikhtiar? apakah aku mengasihi mereka sebagaimana mereka mengasuhku sejak kecil?

Benarkah aku sudah berbakti kepada mereka?

Grup SD Muhammadiyah 2 Pontianak

Thursday, March 8th, 2007

udah gabung di group SD Muhammadiyah 2 Pontianak, buat yang merasa alumni, silahkan gabung yaa…. menjalin persaudaraan disini.

Silahkan klik disini untuk mengunjungi

Wanita mana yang lebih berani?

Thursday, March 8th, 2007

Di tabloid dan media massa lainnya, ada istilah “BERANI” buka-bukaan. Tapi sebenarnya, wanita mana yang lebih berani? Wanita yang tampil buka-bukaan atau wanita yang menutup auratnya?

Coba saja kita bandingkan.

Di masa sekarang, wanita yang tampil buka-bukaan, mengikuti mode populer, akan banyak mendapatkan teman (karena mengikuti budaya populer), cenderung lebih mudah mendapatkan uang karena bidang yang membutuhkan “keterbukaan” lebih banyak dan lebih luas, dan tentu saja cenderung lebih cepat mendapatkan ketenaran.

Sedangkan wanita yang memutuskan untuk menutup auratnya akan banyak mendapatkan tentangan baik dari luar maupun dari dalam dirinya. Bagaimana dengan teman-temannya yang gaul, akankah meninggalkannya? Bagaimana pekerjaannya? bagaimana dengan keluarganya, akankah merestui? belum lagi sindiran-sindiran yang dilemparkan orang. Itu bisa terjadi di Indonesia yang mayoritas Islam.

Bagaimana bila terjadi di negara yang liberal dan Islam menjadi minoritas? tentu seorang yang buka-bukaan bukan lagi dianggap berani, sebaliknya menjadi hal yang wajar. Sedangkan untuk memutuskan memakai jilbab dan menutup aurat sesuai syariat di negara tersebut akan potensial terkena diskriminasi dan pelecehan. belum lagi dicurigai sebagai teroris.

Jadi, Wanita mana yang lebih berani? Dan menutup aurat saja sudah menjadi cara untuk berjihad di jalan Allah.

Rabb, Penyakit, Obat, dan Kesembuhan

Wednesday, March 7th, 2007

alamdulillahirabbil’alamin.. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
masih
inget sedikit kajian di tipi kemaren yang membahas tentang Al-Fatihah.
Pada ayat "Alhamdulillahirabbil’alamin" dijelaskan satu persatu makna
kata sampai pada kata Rabb.

Rabb, beberapa artinya antara lain
adalah pendidik, pengatur, pemelihara. Ustad di tipi menjelaskan bahwa
tidak ada sesuatupun yang lepas dari pengaturan Allah sebagai Rabb, tak
terkecuali manusia, namun manusia sering kali pongah dan mengatakan
bahwa manusia lah yang mengatur dan memelihara dirinya sendiri. Sungguh
suatu perkataan yang amat sombong.

Ustad di tipi itu
memberikan penjelasan. kalau kita makan, siapa yang memerintahkan
lambung untuk mengeluarkan enzim2 pencernaan? siapa yang memerintahkan
usus untuk menyerap nutrisi? siapa yang memerintahkan darah untuk
mendistribusikan nutrisi kepada bagian tubuh yang memerlukan? hanya
Allah, sedangkan manusia kebanyakan tidak sadar dengan proses yang
terjadi dalam tubuhnya.

Begitu pula penyakit, siapa yang
memutuskan seorang manusia untuk menjadi sakit? apakah manusia ataukah
kuman? atas izin Allah kuman dapat masuk ke tubuh, atas izin Allah pula
kuman dapat berkembang biak di dalam tubuh, hingga terjadi sakit. Bila
Allah menghendaki maka tidak ada sesuatupun yang dapat mencegah.

Dan
apabila kita terserang penyakit, kita akan berusaha menyembuhkan diri
dari penyakit tersebut. Kita pergi ke dokter dan meminum obat yang
diresepkannya. Lantas, siapakah yang menyembuhkan? hanya Allah! apabila
kita minum obat, atas hanya atas izin-Nya obat dapat tertelan, hanya
dengan izin-Nya obat dapat hancur, hanya atas izin-Nya obat dapat
diserap, hanya atas izin-Nya obat dapat bekerja, dan hanya atas
izin-Nya tubuh mengeluarkan sisa obat, karena apabila tidak dikeluarkan
obat tersebut akan menumpuk di dalam tubuh sehingga hanya dengan
izin-Nya dapat menjadi racun bagi tubuh.

Jadi siapakah yang menyembuhkan? Hanya Allah SWT.

from rfikrie.multiply.com